Di sisa subuh ini kami mencoba meracik kekata untuk kami
sampaikan kepadamu wahai belahan jiwa kaum kami, Hawa
.
Sesegar nuansa pagi, hati kami telah terguyur rindu untuk
menuliskannya. Dengan cinta kami menyapa bidadari yang
akan kami jemput sebagai kekasih hati. Mari berbicang
mengenai cinta. Cinta yang hakiki.
singgahsananya. Kita rebut kembali cinta yang telah hilang
Kau yang bergelar sebaik-baik perhiasan dunia, amat didamba pria shalih yang kelak menjadi imam di istianamu
Cobalah saksikan betapa teguhnya para sahabiyah yang sabar menghadapi fitrahnya sebagai manusia, begitu juga
“Dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa
Dan bersabarlah…Biarkan cinta berpuasa, lalu cinta berkepompong, menapaki jalan metamorfosa sempurna, dan
pada akhirnya cinta
"Dalam Biduk Cinta di Bahtera Rumah Tangga"Telah kita teguk bersama madunya kesabaran, dari panjangnya
dahaga menjauhkan diri dari jalan-jalan neraka,
Ketika laut terasa mengolokku, membisikkan keraguan, seolah laut tidak pernah memiliki tepi, tapi engkau datang
dari rel syari’at Allah, lalu kita senandungkan dalam kehidupan yang akan kita jalani kelak. insyaAllah…
dan mengajakmu membangun surga di dalamnya, diramaikan pula oleh malaikat-malaikat kecil, imut, nan
menyenangkan, ah syahdunya surga di dalam rumah kita,surga sebelum surga.
para sahabat, tabi’in dan salafussahlih. Adapun saat ini telah kitalihat bersama betapa ramainya adegan cinta
telah dipertontonkan para lelaki dan wanita di mana-mana, tanpa malu, semakin tersebar dalam tayangan
sinetron, layar lebar, duniamaya, ataupun di dunia nyata, di sudut-sudut lokasi yang remang dan gelap-gelap,
apakah itu fitrah? Ya, kita adalah manusia yang Allah hiasi dengan nafsu. Namun kita diamanahi oleh Allah untuk
menahan itu semua sampai pada waktunya, dalam ikatan pernikahan, kita labuhkan segala cinta.
nafsunya. Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Naziat: 40-41)
pada akhirnya cinta
sepesona kupu-kupu, seindah saat berbuka. Adinda…
dahaga menjauhkan diri dari jalan-jalan neraka,
kini mari kita sama-sama ramaikan bumi ini dengan buah yang kita petik dari hasil panen kita. Ladang cinta yang
kita rayakan, di hari panennya dengan penuh suka cita. Wahai adinda, berhislah dengan busana ketaqwan. Mari
kita berlayar di luasnya samudera kehidupan, kembangkan layar kita, akulah sang nahkoda yang siap mengarahkan
bahtera kita menuju surga Allah. Disampingmu, terasa semangat sederas badai. Segala kesulitan hanyut bersama
derasnya arus cinta, didalam kalbuku…
hembuskan kalimat cinta yang merasuki segenap jiwaku, dan jiwaku membaja. Kokoh tegap bertahan dari badai
putus asa, lalu terbitlah optimis bahwa kita akan sampai pada tujuan. Kutulis surat ini saat tulang rusuk ini belum
menjelma dirimu, saat ini,yang alamatnya dalam genggaman rahasia Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar