Jumat, 05 Agustus 2011

SELAYANG PANDANG


Di sisa subuh ini kami mencoba meracik kekata untuk kami 

sampaikan kepadamu wahai belahan jiwa kaum kami, Hawa
.
 Sesegar nuansa pagi, hati kami telah terguyur rindu untuk 

menuliskannya. Dengan cinta kami menyapa bidadari yang

akan kami jemput sebagai kekasih hati. Mari berbicang 

mengenai cinta. Cinta yang hakiki.

Bersamamu adinda, kita akan mengembalikan cinta ke

 singgahsananya. Kita rebut kembali cinta yang telah hilang 


dari rel syari’at Allah, lalu kita senandungkan dalam kehidupan yang akan kita jalani kelak. insyaAllah…

Kau yang bergelar sebaik-baik perhiasan dunia, amat didamba pria shalih yang kelak menjadi imam di istianamu

 dan mengajakmu membangun surga di dalamnya, diramaikan pula oleh malaikat-malaikat kecil, imut, nan


 menyenangkan, ah syahdunya surga di dalam rumah kita,surga sebelum surga.

Cobalah saksikan betapa teguhnya para sahabiyah yang sabar menghadapi fitrahnya sebagai manusia, begitu juga

 para sahabat, tabi’in dan salafussahlih. Adapun saat ini telah kitalihat bersama betapa ramainya adegan cinta

 telah dipertontonkan para lelaki dan wanita di mana-mana, tanpa malu, semakin tersebar dalam tayangan 

sinetron, layar lebar, duniamaya, ataupun di dunia nyata, di sudut-sudut lokasi yang remang dan gelap-gelap,

 apakah itu fitrah? Ya, kita adalah manusia yang Allah hiasi dengan nafsu. Namun kita diamanahi oleh Allah untuk

 menahan itu semua sampai pada waktunya, dalam ikatan pernikahan, kita labuhkan segala cinta.


“Dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa 


nafsunya. Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Naziat: 40-41)

Dan bersabarlah…Biarkan cinta berpuasa, lalu cinta berkepompong, menapaki jalan metamorfosa sempurna, dan


 pada akhirnya cinta


 sepesona kupu-kupu, seindah saat berbuka. Adinda…

"Dalam Biduk Cinta di Bahtera Rumah Tangga"Telah kita teguk bersama madunya kesabaran, dari panjangnya


 dahaga menjauhkan diri dari jalan-jalan neraka,

 kini mari kita sama-sama ramaikan bumi ini dengan buah yang kita petik dari hasil panen kita. Ladang cinta yang

 kita rayakan, di hari panennya dengan penuh suka cita. Wahai adinda, berhislah dengan busana ketaqwan. Mari 

kita berlayar di luasnya samudera kehidupan, kembangkan layar kita, akulah sang nahkoda yang siap mengarahkan

 bahtera kita menuju surga Allah. Disampingmu, terasa semangat sederas badai. Segala kesulitan hanyut bersama


 derasnya arus cinta, didalam kalbuku…

Ketika laut terasa mengolokku, membisikkan keraguan, seolah laut tidak pernah memiliki tepi, tapi engkau datang

 hembuskan kalimat cinta yang merasuki segenap jiwaku, dan jiwaku membaja. Kokoh tegap bertahan dari badai

 putus asa, lalu terbitlah optimis bahwa kita akan sampai pada tujuan. Kutulis surat ini saat tulang rusuk ini belum

 menjelma dirimu, saat ini,yang alamatnya dalam genggaman rahasia Allah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar